Tampilkan postingan dengan label Cingcowong SMAN 3 KUNINGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cingcowong SMAN 3 KUNINGAN. Tampilkan semua postingan

KUNCEN CINGCOWONG

SOSOK Nawita, mungkin tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya Cingcowong. Dia adalah satu-satunya punduh (kuncen) Cingcowong di Kabupaten Kuningan, yang kini berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai tradisi masyarakat Blok Wage Desa Luragung Landeuh, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan ratusan tahun lalu yang kini diperkenalkan kembali kepada masyarakat yang dikemas lewat pagelaran seni tradisi semacam teater dan bentuk tarian cingcowong.
Ditemui di rumahnya Blok Wage, Desa Luragung Landeuh, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, wanita kelahiran 66 tahun lalu itu menyebutkan, Cingcowong sebenarnya merupakan boneka yang terbuat dari tempurung kelapa dan alat penangkap ikan (bubu). Dulu, boneka ini dijadikan alat media untuk mengadakan acara ritual pada saat kemarau panjang, yakni sebuah ritual yang tujuannya agar segera turun hujan.
Terlepas percaya atau tidak dengan tradisi tersebut, yang jelas akhir-akhir ini nama Nawita banyak dikenal masyarakat termasuk pemerintah daerah, setelah dia mempertontonkan kembali Cingcowong kepada masyarakat. Tak jarang dia tampil memainkan Cingcowong dalam berbagai acara, bahkan dia tak jarang pula mendapatkan undangan untuk tampil berkolaborasi lewat sebuah tarian Cingcowong seperti dalam pagelaran Seni dan Kebudayaan mulai tingkat Kecamatan, kabupaten, bahkan pertunjukan di Cirebon dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Dengan banyaknya tampil di panggung pertunjukan, nama Nawita semakin melekat sehingga banyak orang menyebut Kuncen Cingcowong. Ada juga yang menyebut seniman Cingcowong, karena ternyata Cingcowong yang dulu hanya ditampilkan pada acara ritual itu, kini menjadi tontonan masyarakat. Bahkan, seniman lain di Kuningan berupaya untuk mengadopsi Cingcowong menjadi sebuah tarian yakni Tari Cingcowong

Pengertian

Cingcowong adalah salah satu Upacara ritual untuk meminta hujan (zaman dulu)upacara in dilakukan pada saat musim kemarau panjang ± 3 bulan tardisi awal Cingcowong atau uapacara ritual ini dipercayi oleh masyarakat khususnya Kecamatan Luragung setiap datag kemarau upacara ritual Cingcowong selalu dilaksanakan agar lahan pertanian mereka terhindar dari kemarau dan turrun hujan.
Alat yang dipakai untuk uapacara yaitu
1. Satu buah Taraje
2. satu buah samak /Tikar
3. Boneka Cingcowong yang terbuat dari batok kelapa yang dilukis menjadi Putri cantik dengan badan terbuat dari Rangkaian bamboo yang diberi Baju dan sampur serta diberi kalung yang terbuat dari bunga melati
Cingcowong ini dimainkan oleh :
1. Satu orang (Pemandu upacara )
2. 2 orang pemegang sampur ketiaka digerakan (gerakan mirip jaelangkung )
3. 2 orang pemain/penabuh buyung yang dipukul pleh kipas/hihid dan satu orangnya lagi memainkan alat musik ceneng yang terbuat dari bahan kuningan property pendukung lainya yaitu :
Berupa sesajen seperti menyan,kaca,sisir,ember.
Pada jaman dahulu upacara ini sudah menjadi tradisi dan kalau selama 3 bulan hujan belum turun maka selalu dilakukan upacara meminta hujan yang dinamakan cingcowong di perkirakan umur seni cingcowong ini ± 632 tahun.
Perkembangan Cingcowong
Untuk melestarikan seni cingcowong Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan mencoba membuat satu tarian Cingcowong dan tarian ini merupakan salah satu usaha agar tidak menjadi punah pada pertunjukanya yaitu Cingcowong tidak lagi sebagai seni ritual tetapi sudah dikembangkan dan diangkat menjadi seni pertunjukan yang disesuaikan dengan perkembangan jaman sampai sekarang seni tari Cingcowong berkembang dan sering ditampilkan pada acara-acara serimonial baik kebutuhan menyambut tamu Pemerintah dan acara hiburan lainya.
Sumber Cerita : Bidang Kebudayaan
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

;;